Reksa Dana Pasar Uang Investasi Tepat di Tengah Ketidakpastian Global
Rabu, 03 Oktober 2018
Ketegangan perang tarif
perdagangan yang terus berlangsung antara Amerika dan China berdampak pada
perilaku investor global. Para investor lebih mengambil posisi aman dengan
aksi jual aset keuangan di negara berkembang, salah satunya Indonesia yang ditandai
dengan adanya arus keluar (outflow) dana investasi asing dari pasar modal.
Dilansir dari Liputan6.com,
Rabu (3/10/2018) Chief Investment Officer PT Danareksa Investment Management,
Edwin Ridwan mengatakan, berdasarkan data Bloomberg, selama 2018 pasar saham
Indonesia mengalami net sell sebesar USD 3,8 miliar, sementara pada pasar
obligasi tercatat net buy sebesar USD 1,04 miliar.
"Imbasnya, pasar saham
Indonesia sampai dengan Agustus 2018 mengalami penurunan sebesar -5,31 persen
dan yield obligasi Indonesia naik dari 6,23 persen menjadi 8,1 persen,"
ujar dia di Jakarta.
Edwin mengungkapkan, dalam
menyikapi sentimen negatif yang sedang terjadi di pasar global saat ini,
investor tidak perlu panik. Karena kondisi ini diyakini hanya bersifat
sementara.
"Hal ini dilandasi
oleh kondisi fundamental ekonomi domestik Indonesia yang masih sangat baik, di
mana masih terlihat angka GDP yang masih tumbuh 5,2 persen-5,3 persen dan
inflasi yang terjaga di level 3,5+1 persen," kata dia.
Walaupun, lanjut dia, secara
valuasi aset finansial di negara-negara berkembang pada umumnya dan khususnya
di Indonesia telah mencapai tingkat yang menarik, namun investor tampaknya
masih menunggu stabilitas nilai tukar Rupiah dan mengambil posisi wait and
see.
"Oleh karena itu, dalam
masa wait and see seperti sekarang sambil menunggu momentum yang tepat untuk
kembali masuk ke dalam pasar saham dan obligasi, investor masih dapat
mengoptimalkan imbal hasil dana investasinya dengan melakukan penempatan pada
instrumen yang memiliki risiko rendah dan tingkat likuiditas yang tinggi,
yaitu Reksa Dana Pasar Uang," jelas dia.
