AAJI: Investasi asuransi jiwa Jeblok, BNI Life Insurance Ubah Traget dan Strategi
Selasa, 09 Oktober 2018
Meski hasil investasi di
Agustus 2018 ini telah menunjukkan penguatan dibandingkan 2 bulan sebelumnya.
Posisi Juni 2018, hasil investasi industri asuransi jiwa minus Rp 7,50 triliun,
dan posisi Juli di angka minus Rp 3,52 triliun.
Tetapi hasil investasi
industri asuransi jiwa di tahun 2018 ini mempunyai angka minus Rp 2,37 triliun
atau Jeblok dibandingakan Agustus tahun lalu. Dimana di Tahun 2017 lalu hasil
investasi masih positif di angka Rp 27,44 triliun, demikian seperti apa yang
disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agustus 2018.
Ketua Bersama Asosiasi
Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Maryoso Sumaryono mengatakan kondisi seperti ini
akibat tidak lepas dari pergerakan pasar modal, seiring dengan meningkatnya
kekhawatiran investor terhadap perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan
China melalui pemberlakukan tarif ekspor serta impor.
Apalagi pasar saham sedang
bearish (mengalami tren penurunan dan pelemahan). Penurunan nilai investasi ini
disebabkan kondisi indeks harga saham gabungan sedang volatile dan bearish.
Kemudian pasar obligasi turun, dan adanya perang dagang, kata Maryoso.
Sampai saat kini, Kebanyakan
penempatan dana investasi industri asuransi jiwa masih dikuasai pada instrumen
reksadana dan saham. Maka dengan melemahnya kondisi pasar, kinerja investasi
pun ikut memerah.
Hingga Agustus 2018 kemarin,
porsi dana investasi asuransi jiwa di keranjang reksadana mencapai 35,3%. Pada
saat yang sama, penempatan dana di instrumen saham mencapai 30,2%.
Walaupun demikian, ia masih
tetap optimistis dari hasil investasi industri ini bakal membaik, meskipun
tidak signifikan. Terlebih, sejumlah manajer investasi meramalkan Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) berada di level 6.000-an dan pasar obligasi menguat
hingga akhir tahun 2018.
Akibat pasar saham yang
masih belum menentu dan meragukan, PT BNI Life Insurance mengambil
ancang-ancang merevisi target investasi dan strategi di tahun ini.
Head of Corporate Secretary
& Corporate Communication BNI Life Arry Herwindo menjelaskan, BNI Life akan
merevisi sebesar 30% hingga 40% dari total target hasil investasi di tahun
2018.
Jumlah revisi tersebut lebih
tinggi dari tahun lalu, di mana realisasi hasil investasi tahun lalu turun 20%
hingga 30%.
Selain merevisi target dari
hasil investasi, BNI Life juga membatasi dari portofolio instrumen investasi ke
saham dan obligasi. Dan memilih memperbesar portofolio ke pasar uang dan
deposito.
Sementara Direktur Capital
Life Robin Winata menjelaskan, hasil investasi pada perusahaan saya ini sampai
Agustus 2018 masih menunjukkan pertumbuhan positif.
Ia begitu optimistis, hasil
investasi Capital Life bisa dapat tumbuh 10% sampai 11% dibandingkan tahun
lalu. Hasil investasi masih positif karena kami mempunyai komite investasi yang
bekerja berdasarkan risk tolerance, kata Robin.
Meskipun kondisi pasar
sedang lesu, Capital Life belum mau berniat merevisi target hasil investasi
tahun ini. Tim komite investasi sudah menyiapkan sejumlah strategi dan
kebijakan investasi untuk menghadapi kondisi pasar yang cenderung fluktuatif.
Salah satu strateginya,
Capital Life menghindari instrumen berbasis ekuitas. Dan perusahaan ini lebih
memilih memperbesar porsi di insrumen deposito serta instrumen obligasi.