Tahun 2023, Investasi Tambang Freeport Capai USD 1,4 Miliar Per Tahun
Rabu, 09 Januari 2019
Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan investasi yang dikeluarkan guna pengelolaan tambang bawah tanah Grasberg PT Freeport Indonesia pada tahun ini sampai 2023 ialah sebesar US$ 1,1 - 1,4 miliar per tahun. "Itu di luar smelter," ujar dia di KAHMI Center, Jakarta, Rabu, 9 Januari 2019
Tambang bawah tanah Grasberg, kata Budi, sampai kini memang belum berproduksi. Budi mengakui investasi guna pertambangan tersebut sempat telat sebelum rampungnya proses divestasi kelar.
Imbas dari belum berproduksinya tambang bawah tanah itu ialah merosotnya EBITDA Freeport Indonesia pada tahun 2019 sampai 2020. Sebab, tambang Grasberg pun akan mulai berhenti berproduksi pada tahun ini. "Tambangnya belum kekejar, yang undergroundnya belum mulai produksi," kata Budi.
Namun, Budi menegaskan anjloknya penghasilan Freeport pada tahun ini dan tahun depan bukan diakibatkan oleh habisnya cadangan barang tambang di sana. Ia menuliskan tambang bawah tanah Grasberg akan mulai berproduksi secara stabil pada 2023. "Jadi tidak boleh dimarahi bila produksi turun pada 2019-2020, tersebut bukan sebab tambangnya habis."
Dalam suasana stabil tersebut, kata Budi, Freeport akan mempunyai revenue sebesar US$ 7 miliar masing-masing tahun atau Rp 98 triliun masing-masing tahun dengan asumsi nilai tukar Rp 14 ribu per dolar AS. Selanjutnya, EBITDA perseroan dalam suasana stabil menjangkau US$ 4 miliar atau RP 56 triliun. Adapun laba dari perseroan dapat mencapai US$ 2 miliar.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Bambang Gatot Ariyono menegaskan penghasilan Freeport turun bukan lantaran perkara menipisnya cadangan maupun kadar barang tambang di sana. Penurunan itu diakibatkan proses buatan di tambang bawah tanah Grasberg masih belum dimulai.
Setelah tambang bawah tanah beroperasi, Bambang optimistis penghasilan PT Freeport Indonesia akan mulai naik kembali. "Sejak 2020 dan 2021 bakal naik lagi hingga 2025, nanti 2025 bakal mulai stabil," ujar Bambang.
Tambang bawah tanah Grasberg, kata Budi, sampai kini memang belum berproduksi. Budi mengakui investasi guna pertambangan tersebut sempat telat sebelum rampungnya proses divestasi kelar.
Imbas dari belum berproduksinya tambang bawah tanah itu ialah merosotnya EBITDA Freeport Indonesia pada tahun 2019 sampai 2020. Sebab, tambang Grasberg pun akan mulai berhenti berproduksi pada tahun ini. "Tambangnya belum kekejar, yang undergroundnya belum mulai produksi," kata Budi.
Namun, Budi menegaskan anjloknya penghasilan Freeport pada tahun ini dan tahun depan bukan diakibatkan oleh habisnya cadangan barang tambang di sana. Ia menuliskan tambang bawah tanah Grasberg akan mulai berproduksi secara stabil pada 2023. "Jadi tidak boleh dimarahi bila produksi turun pada 2019-2020, tersebut bukan sebab tambangnya habis."
Dalam suasana stabil tersebut, kata Budi, Freeport akan mempunyai revenue sebesar US$ 7 miliar masing-masing tahun atau Rp 98 triliun masing-masing tahun dengan asumsi nilai tukar Rp 14 ribu per dolar AS. Selanjutnya, EBITDA perseroan dalam suasana stabil menjangkau US$ 4 miliar atau RP 56 triliun. Adapun laba dari perseroan dapat mencapai US$ 2 miliar.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Bambang Gatot Ariyono menegaskan penghasilan Freeport turun bukan lantaran perkara menipisnya cadangan maupun kadar barang tambang di sana. Penurunan itu diakibatkan proses buatan di tambang bawah tanah Grasberg masih belum dimulai.
Setelah tambang bawah tanah beroperasi, Bambang optimistis penghasilan PT Freeport Indonesia akan mulai naik kembali. "Sejak 2020 dan 2021 bakal naik lagi hingga 2025, nanti 2025 bakal mulai stabil," ujar Bambang.
