Sri Mulyani: Ini Tantangan Ekonomi RI Tahun Depan 2019
Senin, 24 September 2018
Menteri Keuangan Sri Mulyani
Indrawati bicara soal proyeksi ekonomi Indonesia di tahun 2019. Untuk
mengetahui perkiraan ekonomi Indonesia ke depan, perlu ditarik kondisi ekonomi
Indonesia setahun ke belakang atau sebelumnya. Tantangan ekonomi Indonesia
tahun depan juga masih dihadapi oleh rencana kenaikan suku bunga The Fed.
Kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) tersebut akan mempengaruhi arus
modal yang masuk ke negara berkembang termasuk Indonesia.
Sri Mulyani mengatakan,
optimisme terhadap ekonomi 2019 bisa dirasakan dari paruh kedua tahun lalu.
Kinerja ekspor Indonesia mulai mengalami peningkatan dari sebelumnya yang
mengalami kontraksi karena kondisi ekonomi dunia.
"Untuk di 2018
optimisme muncul di semester II-2017 menggambarkan pick up growth muncul dari
sisi agregat demand dan agregat supply. Demand ekspor positif tadinya mulai
2014 always kontraksi," kata Sri Mulyani Dalam acara Indonesia Economic
Outlook Forum di Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat,
Senin (24/9/2018).
Akan tetapi, peningkatan
ekspor tidak lebih tinggi dari impor. Peningkatan impor, kata Sri Mulyani,
terjadi pada impor barang modal dan bahan baku yang mencerminkan adanya
investasi.
"Ternyata percepatan
impor lebih cepat dibandingkan ekspor, sehingga current account deficit (CAD)
semester I-2018 US$ 13,5 miliar," ujar Sri Mulyani.
Mengenai defisit anggaran
pendapatan dan belanja negara (APBN), Sri Mulyani mengatakan angka tersebut
akan semakin turun rasionya terhadap produk domestik bruto (PDB). Defisit APBN
tahun depan ditargetkan mendekati 2% terhadap PDB dan tahun depan lebih rendah
lagi.
"Fiscal policy juga
mengikuti undang-undang di bawah 3%. Sekarang mendekati 2%, tahun depan turun
lagi," ujar Sri Mulyani.
"Bunga The Fed naik dan
tightening terjadi dan policy Amerika Serikat membuat memunculkan dinamika
capital flow," tutur Sri Mulyani.
Untuk merespons hal
tersebut, sejumlah kebijakan juga dilakukan untuk meredam dampak dari faktor
eskternal tersebut. Penyesuaian suku bunga acuan hingga intervensi di pasar
uang dilakukan otoritas moneter.
"Policy nation nya apa
suku bunga, exchange rate dan intervensi," ujar Sri Mulyani.
Sri Mulyani menambahkan,
target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan berada di level 5,3% atau
sedikit lebih tinggi dari target tahun ini di 5,2%.
"Jadi sampai hari ini
growth tahun depan 5,3% agregat demand dan agregat supply. Demand supply dari sisi
konsumsi 5,1% dan investasi di 7%, ekspor 6,3% dan impor dijaga di 7,1%.
Sehingga total 5,3%," tutur Sri Mulyani.
Dari sisi supply, sektor
pertanian akan tumbuh mendekati 4%, sektor pertambangan akan membaik meski
masih harus berjuang cukup berat. Sektor manufaktur juga diharapkan bisa tumbuh
di atas 5% karena akan berdampak banyak pada sub sektor perekonomian Indonesia.