Akhir Tahun Pertumbuhan Bisnis Waralaba Stagnan 5-6 persen, AFI: Ini Masih Bagus

Pertumbuhan penjualan waralaba sampai akhir tahun 2018 diduga mencapai 5% - 6%. Angka itu terbilang stagnan, tetapi menurut keterangan dari Andrew Nugroho, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), capaian tersebut lumayan baik mengingat situasi ekonomi makro yang fluktuatif.

"Angka tersebut dari penjualan waralabanya ya. Tapi kalau dari sisi penjualan produknya berkembang lebih dari itu. Mungkin dapat hampir 10% karena tidak sedikit yang buka cabang di sekian banyak kota," jelasnya pada KONTAN di Balai Kartini.

Industri waralaba diduga mampu mencetak transaksi Rp 7,5 triliun pada tahun 2018 ini. Angka itu lebih tinggi dari transaksi tahun kemudian yang menjangkau Rp 7 triliun.

Berdasarkan keterangan dari Andrew, perkembangan ekonomi tanah air tahun 2018 mau melambat, serta ketidaktetapan nilai tukar rupiah, tidak memprovokasi perkembangan bisnis model waralaba. Sehingga bisnis dengan model waralaba masih dapat terus tumbuh.

"Saya sendiri pun pelaku bisnis franchise di bidang kuliner. Berdasarkan keterangan dari saya sih tidak terlampau berasa dampaknya. Kami tetap dapat mengalami pertumbuhan, meskipun memang tidak terlampau besar. Pertumbuhannya dapat sekitar 5%," ungkapnya.

Andrew menjelaskan andai bisnis waralaba di sektor kuliner memang paling banyak diminati setiap tahunnya. Selain sebab pasar bisnisnya yang luas, nilai investasi yang ditawarkan pun beragam. Modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis waralaba kuliner pun terjangkau, dikomparasikan dengan sektor lainnya.

"Segmentasi bisnis kemitraan kuliner pun makin luas, seluruh kelas dapat digarap, mulai klaster bawah, menengah sampai klaster premium. Karena ruang geraknya lumayan luas, jadi peluang buat berkembangnya pun luas," terangnya.

Hingga detik ini, bisnis kuliner masih menjadi yang sangat populer. Banyak pengusaha menawarkan kemitraan usaha kuliner. Merek-merek usaha baru ataupun jenis makanan baru juga tidak sedikit bermunculan.

Legit dan gurihnya bisnis kemitraan di sektor kuliner juga dinyatakan oleh di antara pemain besar di sektor ini, Es Teler 77. Project Manager Es Teller 77, Irman Febrianto mengakui, bila sektor kuliner adalah bisnis yang tidak bakal mati dimakan zaman. Potensi pasar yang dikerjakan juga lebih luas dibanding sektor yang lain.

"Kami telah 36 tahun berdiri dan masih eksis hingga sekarang. Kami sering kali berusaha supaya varian makanan dan minuman yang kami tawarkan masuk ke pasar dan digemari oleh seluruh kalangan," ungkapnya.

Hingga akhir tahun ini, Es Teler 77 menargetkan pendahuluan 40 gerai baru. Irman menuliskan sampai ketika ini, telah tercapai selama 90% dari target. "Setiap tahun, kami memang tidak jarang kali menargetkan membuka gerai baru selama 30 - 40 gerai," pungkasnya.

Boleh jadi, persaingan di bisnis waralaba kuliner saat ini lebih ketat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Apalagi selama tiga tahun belakangan, jenis kuliner fusion banyak bermunculan.

Tren kuliner fusion ini banyak dilirik oleh anak-anak muda. Pemain waralaba kuliner pun berusaha menyesuaikan diri lewat berbagai inovasi.

Seperti Es Teler 77 yang melakukan berbagai inovasi dalam menu, konsep desain, dan konsep marketing. Untuk inovasi menu, Es Teller 77 meluncurkan menu es teler durian. "Ada pula menu kopi yang disediakan di restoran Es Teler 77," ujar Irman Febrianto, Project Manager Es Teller 77.

Lalu untuk desain interior, mereka juga merombak beberapa ornamen dan elemen di gerainya. Jika selama ini, ornamen gerai Es Teler 77 didominasi warna hijau dan kuning, kini desain menonjolkan kesan modern.

"Kami menambahkan ornamen kayu dan mural seperti interior kafe, jadi kesannya lebih santai," terang Irman.

Dari segi marketing, demi menjangkau pasar anak muda, Es Teler 77 mengaktifkan beberapa foodtruck. Gerai ini biasanya beroperasi di event, kampus atau sekolah. Menu di gerai foodtruck juga berbeda dari menu di gerai atau restoran.

"Foodtruck cukup efektif untuk menjangkau pasar anak muda karena fleksibel. Kami jemput bola. Menunya camilan, seperti otak-otak goreng, bakso, dan es teler. Kemasannya juga kami buat ala anak muda," kata Irman.

Ia menjelaskan kunci agar tetap eksis meski kondisi persaingan makin ketat adalah konsisten di segala aspek, mulai dari rasa, pelayanan, pengelolaan SDM, sampai operasional. "Brand kami memang bukan brand kekinian, tapi kami konsisten dengan menu-menu kami," tandasnya.

Jika Es Teler 77 memilih bertahan dengan menu - menu original dan otentik sehingga bisa tetap bertahan, lain halnya dengan Cita Rasa Prima (CRP) Grup yang memilih sebaliknya. Pemilik lisensi dan waralaba Warunk Up Normal tersebut justru memilih makanan yang sudah akrab di lidah masyarakat Indonesia, kemudian dimodifikasi.

Rex Marindo, Direktur Marketing sekaligus founder CRP Grup, penentuan menu yang mudah masuk ke pasar akan memudahkan promosi. “Karena makanannya sudah akrab di masyarakat, kami tidak perlu susah payah mengedukasi pasar tentang apa yang kami jual,” katanya.

Rex lanjut menjelaskan, strategi selanjutnya adalah inovasi dan modifikasi. Menurutnya dalam bisnis kuliner kedua hal tersebut penting untuk memberi ciri khas terhadap bisnis kuliner yang kita miliki.

Misal, Warunk Upnormal selama ini dikenal sebagai pelopor warung makan indomie (Warmindo) kekinian. Berbagai racikan bumbu dan topping indomie yang disajikan di Warunk Upnormal berbeda dari Warmindo biasanya. “Itulah penting inovasi dan modifikasi menu,” ungkapnya.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel