Pasar Modal Syariah dan Reksadana Syariah Meningkat, Ini Datanya
Kamis, 06 Desember 2018
Pasar modal syariah di Indonesia terus berkembang setiap tahunnya. Ketua Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan, (OJK), Hoesen mengharapkan kepada pelaku industri pasar keuangan ini tetap harus mewaspadai potensi tantangan di tahun depan.
“ Pada tahun 2018, industri pasar modal syariah terus berkembang,” uangkap Hoesen di Jakarta, Rabu 5 Desember 2018 dilansir dari dream.co.id.
Dari data OJK menunjukan Daftar Efek Syariah (DES) hingga per 23 November 2018 telah berisi 407 saham. Daftar ini berlaku per 1 Desember 2018.
Dia melanjutkan “ Jumlah ini meningkat 6,5 persen dibandingkan dengan akhir tahun 2017 yang sebanyak 382 saham.”
Jumlah saham di daftar Indeks Saham Syariah Indonesia sebanyak 391 saham dan meningkat 7,1 persen secara year to date (YTD).
Sayangnya peningkatan ini tak bisa diikuti kapitalisasi pasar yang justru menurun 3,7 persen menjadi Rp3.567 triliun pada akhir November 2018.
Untuk produk keuangan syariah, OJK mencatat jumlah sukuk outstanding per 30 November 2018 tumbuh 36,7 persen YTD dengan nilai yang naik 45,2 persen.
Sekarang ini, terdapat 108 sukuk korporat yang nilainya mencapai Rp22,8 triliun. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan outstanding pada tahun 2017 dengan jumlah 79 sukuk dan nilai Rp15,7 triliun.
Peningkatan ini juga terjadi pada instrument reksa dana syariah. Jumlah reksa dana syariah meningkat 21,4 persen YTD dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) meningkat 19,8 persen. Sebanyak 221 reksa dana syariah diperdagangkan pelaku pasar dengan NAB sebesar Rp33,9 triliun.
Peningkatan tersebut diharapkan terus dijaga salah satunya dengan mengantisipasi tantangan yang bisa menghadang. Menurut Hoesen, pasar modal syariah masih akan menghadapi tantangan dari domestik dan eksternal sepanjang 2018 dan menuju 2019.
Tantangan eksternal berupa rencana bank sentral Amerika Serikat yang menaikkan suku bunganya menjadi 2,25 persen dan faktor perang dagang. Sedangkan dari dalam negeri, Indonesia menghadapi tantangan berupa defisit neraca transaksi berjalan.
Hoesen mengungkapkan perlu ada kerja sama untuk menghadapi tantangan itu. “Diperlukan kerja sama antar berbagai stakeholders untuk mengeksplorasi instrumen-instrumen baru dan mengembangkan basis investor pasar modal syariah,” pungkanya.
“ Pada tahun 2018, industri pasar modal syariah terus berkembang,” uangkap Hoesen di Jakarta, Rabu 5 Desember 2018 dilansir dari dream.co.id.
Dari data OJK menunjukan Daftar Efek Syariah (DES) hingga per 23 November 2018 telah berisi 407 saham. Daftar ini berlaku per 1 Desember 2018.
Dia melanjutkan “ Jumlah ini meningkat 6,5 persen dibandingkan dengan akhir tahun 2017 yang sebanyak 382 saham.”
Jumlah saham di daftar Indeks Saham Syariah Indonesia sebanyak 391 saham dan meningkat 7,1 persen secara year to date (YTD).
Sayangnya peningkatan ini tak bisa diikuti kapitalisasi pasar yang justru menurun 3,7 persen menjadi Rp3.567 triliun pada akhir November 2018.
Untuk produk keuangan syariah, OJK mencatat jumlah sukuk outstanding per 30 November 2018 tumbuh 36,7 persen YTD dengan nilai yang naik 45,2 persen.
Sekarang ini, terdapat 108 sukuk korporat yang nilainya mencapai Rp22,8 triliun. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan outstanding pada tahun 2017 dengan jumlah 79 sukuk dan nilai Rp15,7 triliun.
Peningkatan ini juga terjadi pada instrument reksa dana syariah. Jumlah reksa dana syariah meningkat 21,4 persen YTD dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) meningkat 19,8 persen. Sebanyak 221 reksa dana syariah diperdagangkan pelaku pasar dengan NAB sebesar Rp33,9 triliun.
Peningkatan tersebut diharapkan terus dijaga salah satunya dengan mengantisipasi tantangan yang bisa menghadang. Menurut Hoesen, pasar modal syariah masih akan menghadapi tantangan dari domestik dan eksternal sepanjang 2018 dan menuju 2019.
Tantangan eksternal berupa rencana bank sentral Amerika Serikat yang menaikkan suku bunganya menjadi 2,25 persen dan faktor perang dagang. Sedangkan dari dalam negeri, Indonesia menghadapi tantangan berupa defisit neraca transaksi berjalan.
Hoesen mengungkapkan perlu ada kerja sama untuk menghadapi tantangan itu. “Diperlukan kerja sama antar berbagai stakeholders untuk mengeksplorasi instrumen-instrumen baru dan mengembangkan basis investor pasar modal syariah,” pungkanya.
