Prediksi Pertumbuhan Asuransi Syariah Capai 10,63 Persen, Ini Kata AASI
Kamis, 29 November 2018
Pertumbuhan industri asuransi syariah bakal meningkat di tahun depan, salah satunya ditopang oleh kedatangan pemain baru dari lini bisnis industri ini. Kedatangan pemain baru ini bakal menunjang perkembangan premi bruto di angka dua digit.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Ahmad Sya’roni mengatakan pertumbuhan premi diduga mencapai 10%-11% di tahun 2019. Hal itu diakibatkan bertambahnya jumlah pemain baru serta potensi bisnis dari keharusan pemakaian asuransi perjalanan umrah dan haji.
Ia memperkirakan bakal ada lima perusahaan asuransi baru yang siap menjalankan bisnis syariah di tahun 2019. “Tahun depan, pendatang baru diperkirakan empat sampai lima perusahaan, jadi pemainnya bakal jauh lebih banyak di tahun depan. Bertambahnya jumlah pemain mengindikasikan investor kian berminat mengerjakan investasi di sektor ini,” kata Sya’roni, di Jakarta, belum lama ini.
Saat ini total pemain asuransi syariah sejumlah 63 perusahaan, yang terdiri dari 30 asuransi jiwa syariah, 30 asuransi umum syariah dan tiga reasuransi syariah. Artinya, tahun depan diduga total pemain asuransi 68 perusahaan.
“Sekarang saya belum dapat menyebut pendatang barunya siapa, tetapi diduga dari asuransi umum syariah dua perusahaan, dan dari asuransi jiwa syariah dua perusahaan. Dan masih terdapat satu perusahaan lagi,” jelasnya.
Berdasarkan data asosiasi, peroleh premi tahun ini diduga mencapai Rp 14,1 triliun, sedangkan tahun depan perkembangan premi bertambah 10,63% menjadi Rp 15,6 triliun.
Terlebih, masih banyaknya produk asuransi syariah yang masih dapat digarap misal wisata halal, kuliner halal, kosmetik halal, hotel syariah dan spa syariah.
Disamping itu, meningkatnya jumlah pemain baru akan menambah pangsa pasar asuransi syariah di Indonesia. Dari pangsa pasar asuransi syariah selama 5%-6% di tahun ini, dapat meningkat lebih dari 6% di tahun 2019.
Sepanjang tahun 2018, terdapat tambahan tujuh pemain asuransi syariah, diantaranya ialah PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia dan PT Capital Life Syariah.
Chief of Marketing and Customer Generali Indonesia Vivin Arbianti Gautama menjelaskan perusahaan tertarik menjalankan bisnis asuransi syariah sebab melihat potensi warga muslim yang mencapai 85% dari total warga sebesar 265 juta jiwa.
“Sudah tentu ini merupakan pasar yang menarik, di tengah situasi penduduk muslim dimana kelas menengah yang kian banyak. Ditambah tren syariah dan produk halal pun semakin digemari masyarakat,” ungkapnya.
Generali menyediakan sekian banyak program yang cocok dengan keperluan komunitas muslim, serta menawarkan produk asuransi perlindungan dan kesehatan. Pihaknya sudah mengerjakan roadshow untuk mengenalkan asuransi wakaf, serta melangsungkan talkshow tentang asuransi syariah. Ke depan, Generali Indonesia akan mengincar pasar asuransi perjalanan haji, umrah dan pesantren. Sementara sampai ketika ini, total pemegang polis perusahaan lebih dari 3.000 polis.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Ahmad Sya’roni mengatakan pertumbuhan premi diduga mencapai 10%-11% di tahun 2019. Hal itu diakibatkan bertambahnya jumlah pemain baru serta potensi bisnis dari keharusan pemakaian asuransi perjalanan umrah dan haji.
Ia memperkirakan bakal ada lima perusahaan asuransi baru yang siap menjalankan bisnis syariah di tahun 2019. “Tahun depan, pendatang baru diperkirakan empat sampai lima perusahaan, jadi pemainnya bakal jauh lebih banyak di tahun depan. Bertambahnya jumlah pemain mengindikasikan investor kian berminat mengerjakan investasi di sektor ini,” kata Sya’roni, di Jakarta, belum lama ini.
Saat ini total pemain asuransi syariah sejumlah 63 perusahaan, yang terdiri dari 30 asuransi jiwa syariah, 30 asuransi umum syariah dan tiga reasuransi syariah. Artinya, tahun depan diduga total pemain asuransi 68 perusahaan.
“Sekarang saya belum dapat menyebut pendatang barunya siapa, tetapi diduga dari asuransi umum syariah dua perusahaan, dan dari asuransi jiwa syariah dua perusahaan. Dan masih terdapat satu perusahaan lagi,” jelasnya.
Berdasarkan data asosiasi, peroleh premi tahun ini diduga mencapai Rp 14,1 triliun, sedangkan tahun depan perkembangan premi bertambah 10,63% menjadi Rp 15,6 triliun.
Terlebih, masih banyaknya produk asuransi syariah yang masih dapat digarap misal wisata halal, kuliner halal, kosmetik halal, hotel syariah dan spa syariah.
Disamping itu, meningkatnya jumlah pemain baru akan menambah pangsa pasar asuransi syariah di Indonesia. Dari pangsa pasar asuransi syariah selama 5%-6% di tahun ini, dapat meningkat lebih dari 6% di tahun 2019.
Sepanjang tahun 2018, terdapat tambahan tujuh pemain asuransi syariah, diantaranya ialah PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia dan PT Capital Life Syariah.
Chief of Marketing and Customer Generali Indonesia Vivin Arbianti Gautama menjelaskan perusahaan tertarik menjalankan bisnis asuransi syariah sebab melihat potensi warga muslim yang mencapai 85% dari total warga sebesar 265 juta jiwa.
“Sudah tentu ini merupakan pasar yang menarik, di tengah situasi penduduk muslim dimana kelas menengah yang kian banyak. Ditambah tren syariah dan produk halal pun semakin digemari masyarakat,” ungkapnya.
Generali menyediakan sekian banyak program yang cocok dengan keperluan komunitas muslim, serta menawarkan produk asuransi perlindungan dan kesehatan. Pihaknya sudah mengerjakan roadshow untuk mengenalkan asuransi wakaf, serta melangsungkan talkshow tentang asuransi syariah. Ke depan, Generali Indonesia akan mengincar pasar asuransi perjalanan haji, umrah dan pesantren. Sementara sampai ketika ini, total pemegang polis perusahaan lebih dari 3.000 polis.