Mau Investasi Di Sektor Rill dan Keuangan? Begini Cara Termudah Memilih Produk Investasi Dan Mengenal Resikonya
Selasa, 25 September 2018
Investasi - Sebaiknya Anda
menyiapkan dana untuk masa mendatang anak dan family. Namun, kadang sulit
memburu tingginya harga barang dan jasa yang terpapar imbas inflasi yang
meningkat ditiap tahun. Investasi merupakan keperluan masa depan dengan jumlah
yang besar di kemudian hari. Pastikan Anda telah lebih dahulu mempunyai
tabungan supaya investasi dapat berjalan optimal. Jika Anda telah lebih mahir
mengelola finansial maka langkah lanjutan yang usahakan dilakukan ialah
berinvestasi.
Sebelumnya, Apakah anda tau
cara memilih produk investasi dan mengenal risiko bagi keuangan anda?
Pada dasarnya, ada dua jenis
utama produk investasi. Pertama adalah di sektor riil, dan yang kedua adalah
sektor keuangan. Di sektor riil, investasi dapat berupa properti, emas, barang
seni dan antik, serta penyertaan modal langsung di perusahaan atau usaha tertentu.
Di sektor keuangan, produk investasinya biasa dinamakan surat berharga pasar
modal (efek, yang berupa reksa dana, saham, dan obligasi), deposito, dan
kontrak berjangka (futures).
Apa saja perbedaan kedua
kelompok investasi tersebut? Untuk mengenal lebih jauh perbedaan tipe-tipenya,
berikut risiko dan keuntungan dari masing-masing jenis investasi tersebut.
Investasi di Sektor Riil
1. Untuk berinvestasi
biasanya membutuhkan modal yang tidak sedikit. Emas misalnya, Anda dapat
membeli emas Logam Mulia (LM) koinan ukuran gram yang saat ini satu gramnya
berada di kisaran harga Rp 650.000. Saat ini tersedia bentuk emas sederhana
ukuran 1 gram-500 gram, emas batik, dan emas tematik lain. Mereka juga
menyediakan perak.
Emas dan perak LM tersebut
dapat dibeli di gerai-gerai milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang dapat Anda
lihat di situs perusahaan. Untuk properti, setidaknya Anda butuh Rp 100 juta
jika ingin memiliki lahan kosong yang ukurannya cukup ekonomis untuk dijual
kembali, atau Rp 250 juta jika ingin membeli rumah atau ruko atau apartemen
kecil yang dapat disewakan atau dijual kembali guna meraih cuan atau jika ada
kebutuhan. Belum lagi harga benda-benda antik atau koleksi yang biasanya
ratusan juta bahkan miliaran.
2. Untuk menjual kembali
investasi Anda maka ada usaha yang harus dilakukan dan prosesnya tidak bisa
cepat untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Contoh sederhana adalah untuk
menjual emas koinan atau batangan LM, tentu kita harus melewati proses menuju
ke toko emas atau ke gerai Antam untuk menjual emas tersebut.
Misalnya, untuk menjual
rumah, prosesnya biasanya memakan waktu bulanan atau bahkan tahunan untuk
mendapatkan harga yang cukup tinggi sesuai harga pasar saat itu.
Jika kita terburu-buru
karena sedang butuh, maka harganya dapat ditekan oleh calon pembeli yang saat
itu daya tawarnya lebih besar. Namun, proses memiliki barang secara riil untuk
berinvestasi merupakan sebuah keunggulan utama dibandingkan dengan produk
investasi keuangan.
3. Penjualan kembali produk
investasi sektor riil biasanya juga tidak bisa dipecah. Misalnya emas, tentu
nilainya harus sesuai dengan seonggok aset yang kita punya, tidak bisa dibelah
jika kita hanya butuh separuh nilainya.
Sama juga dengan properti.
Untuk rumah yang kisaran harga pasarnya Rp 500 juta, tidak mungkin Anda menjual
satu kamar saja karena kebutuhan uang saat itu hanya Rp 100 juta.
4. Jika kita membeli barang
nyata untuk nantinya dijual kembali, tentu ada risiko hilang akibat berbagai
hal, baik yang bisa diminimalisir atau yang di luar kendali kita sebagai
investor.
5. Untuk investasi di sebuah
bisnis, risiko dasar berinvestasinya adalah risiko bangkrut. Risiko tersebut
bisa muncul dari oknum, sistem kerja, kelalaian, dan kondisi pasar/lingkungan
yang tidak mendukung. Namun, jika risiko bangkrut tersebut dapat dibalikkan,
tentu hasil bisnis tersebut akan menjadi yang paling besar dibanding investasi
jenis lainnya.
Investasi di Sektor Keuangan
1. Risiko dari unsur
penggelapannya lebih besar dibandingkan dengan investasi di sektor riil karena
aset yang kita beli biasanya sudah tidak berbentuk surat (scripless). Tanpa
mengetahui detail tentang bentuk dan skema investasinya, maka tidak sedikit
masyarakat yang terjebak iming-iming keuntungan besar dari skema investasi yang
kurang jeli dimaknai.
Perlu pemahaman mendalam
atau dicontohkan oleh orang dekat untuk mengenali skemanya agar menambah
keyakinan dalam berinvestasi. Cek kembali identitas dan izin yang dimiliki perusahaan
atau lembaga pengawasnya.
2. Fluktuasi dari pasar
keuangan relatif tinggi, terutama untuk investasi di pasar saham dan
futures/forex. Keuntungan bisa berlipat-lipat, tetapi jangan lupakan risiko
juga bisa lebih berlipat lagi.
Perhatikan fasilitas-fasilitas
pinjaman yang langsung diberikan tanpa pemberitahuan detail. Jangan manfaatkan
dulu fasilitas pinjaman transaksi, dan gunakan dana kas dulu untuk memulai
berinvestasi. Pahami dulu cara main-nya, baru tancap gas seiring dengan
bertambahnya pemahaman.
3. Minimal investasi yang
relatif kecil, bisa dimulai dari Rp 5.000 untuk saham, Rp 10.000 untuk
investasi reksa dana, Rp 40.000 untuk reksa dana yang dapat ditransaksikan di
bursa (exchange traded fund/ETF), Rp 1 juta untuk obligasi negara ritel (ORI),
sukuk ritel (sukri), obligasi tabungan ritel (saving bond retail/SBR).
Kesimpulan:
1. Minimal pembelian yang
kecil (mulai dari Rp 10.000) dan kemudahan bertransaksi melalui fasilitas
online sektor keuangan dapat menjadi pintu awal untuk berinvestasi.
2. Hasil investasi di sektor
riil, sebanding dengan potensi dan risikonya, tentu lebih besar dibandingkan
dengan investasi di sektor keuangan. Ingat prinsip awal berinvestasi, High Risk
= High Return.
3. Jangan percaya
iming-iming keuntungan yang berlipat. Semakin menggiurkan biasanya akan semakin
tidak masuk akal.
4. Diversifikasikan produk
investasi Anda sesuai dengan horizon dan tujuan investasi Anda masing-masing.