Tahun Depan Fintech dan Konsumer Ramaikan IPO
Minggu, 09 Desember 2018
Sekuritas mulai berhitung prospek perusahaan yang berniat go public tahun depan. Beberapa telah mengantongi niat korporasi melangsungkan initial public offering (IPO).
Direktur Utama PT Kresna Sekuritas Octavianus Budiyanto mengungkapkan, sejumlah perusahaan pun sudah mendapat pendidikan bersangkutan aturan baru e-bookbuilding dan siap menerapkannya.
"Beberapa calon emiten saya telah sounding masalah itu, dan mereka sepenuhnya serahkan untuk underwriter," kata Octavianus, Senin (3/12) Dilansir dari Kontan.co.id.
Dia mengatakan, minimal tahun depan terdapat lima calon emiten. Semuanya berasal dari sektor penyedia jasa finansial berbasis teknologi atau financial technology (fintech). Paling cepat, mereka bakal IPO pada kuartal II 2019.
"Mereka tunggu sesudah pemilu. Jadi, bila based on historical data, bagus sesudah pemilu, sepanjang enggak terdapat sentimen beda dan indeks terus naik. Itu jadi di antara pemicu,” kata Octavianus.
Sedangkan dari PT Indo Premier Sekuritas, Presiden Direkturnya Moleonoto The mengatakan, terdapat tiga perusahaan di pipeline-nya. Umumnya, perusahaan tersebut ialah mereka yang menunda guna IPO di 2018.
"Tahun depan relatif sepi, jadi yang delay tahun ini jadinya (IPO) tahun depan, sektornya banyak sekali konsumer," ungkap Moelonoto.
Meskipun terbilang sepi, tahun depan dirasakan lebih baik guna IPO dikomparasikan tahun ini. Ini didukung dengan proyeksi bahwa defisit transaksi berlangsung (CAD) akan lebih rendah di bawah 3%.
"Kami pun yakin di tahun depan sentimen perang dagang AS dan China telah mereda, begitu pun proyeksi pasar bersangkutan eskalasi suku bunga acuan AS (The Fed) yang diduga hanya dua kali di tahun depan," ujarnya.
Berbagai sentimen tersebut, diyakini akan mendorong nilai tukar rupiah guna kembali stabil, serta dana asing terus mengalir ke market Tanah Air. Tahun politik pun dinilai tidak bakal menjadi kekhawatiran di tahun depan.
Direktur Utama PT Kresna Sekuritas Octavianus Budiyanto mengungkapkan, sejumlah perusahaan pun sudah mendapat pendidikan bersangkutan aturan baru e-bookbuilding dan siap menerapkannya.
"Beberapa calon emiten saya telah sounding masalah itu, dan mereka sepenuhnya serahkan untuk underwriter," kata Octavianus, Senin (3/12) Dilansir dari Kontan.co.id.
Dia mengatakan, minimal tahun depan terdapat lima calon emiten. Semuanya berasal dari sektor penyedia jasa finansial berbasis teknologi atau financial technology (fintech). Paling cepat, mereka bakal IPO pada kuartal II 2019.
"Mereka tunggu sesudah pemilu. Jadi, bila based on historical data, bagus sesudah pemilu, sepanjang enggak terdapat sentimen beda dan indeks terus naik. Itu jadi di antara pemicu,” kata Octavianus.
Sedangkan dari PT Indo Premier Sekuritas, Presiden Direkturnya Moleonoto The mengatakan, terdapat tiga perusahaan di pipeline-nya. Umumnya, perusahaan tersebut ialah mereka yang menunda guna IPO di 2018.
"Tahun depan relatif sepi, jadi yang delay tahun ini jadinya (IPO) tahun depan, sektornya banyak sekali konsumer," ungkap Moelonoto.
Meskipun terbilang sepi, tahun depan dirasakan lebih baik guna IPO dikomparasikan tahun ini. Ini didukung dengan proyeksi bahwa defisit transaksi berlangsung (CAD) akan lebih rendah di bawah 3%.
"Kami pun yakin di tahun depan sentimen perang dagang AS dan China telah mereda, begitu pun proyeksi pasar bersangkutan eskalasi suku bunga acuan AS (The Fed) yang diduga hanya dua kali di tahun depan," ujarnya.
Berbagai sentimen tersebut, diyakini akan mendorong nilai tukar rupiah guna kembali stabil, serta dana asing terus mengalir ke market Tanah Air. Tahun politik pun dinilai tidak bakal menjadi kekhawatiran di tahun depan.