Mau Beli Asuransi Jiwa? 4 Kesalahan Ini Bikin Fatal Bagi Nasabah Asuransi
Selasa, 25 September 2018
Asuransi - "Apakah melakukan
pembelian asuransi jiwa termasuk resolusi keuangan anda?"
Saat ini posisi Anda ialah
sebagai pencari nafkah utama di keluarga, usahakan kita memang mempunyai
asuransi jiwa, upaya ini dilakukan sebagai strategi manajemen risiko keuangan
keluarga. Memiliki asuransi jiwa dapat membantu kita mengantisipasi
risiko-risiko keuangan yang dapat timbul dampak kematian pencari nafkah dan
sebab musibah-musibah yang menciptakan keran penghasilan keluarga terganggu.
Namun, untuk melakukan pembelian asuransi jiwa pun perlu ketelitian tersendiri
supaya tidak terjebak pembelian produk yang tidak tepat. Sering terjadi kesalahan fatal seseorang melakukan pembelian asuransi jiwa, ternyata tidak sesuai keperluan
sehingga ketika dicairkan, risiko keuangan yang dihindari masih terjadi dan
mengguncang kesehatan keuangan keluarga. Misalnya nilai duit pertanggungan
paling kecil, tak cocok perkiraan. Atau mayoritas premi atau iuran yang
ditunaikan per bulan ternyata dipotong lumayan besar karena alasan tertentu
dari perusahaan asuransi.
Perrhatikan empat kesalahan besar hasil riset berikut ini agar
Anda tidak salah membeli:
1.Tidak mengetahui kebutuhan
uang pertanggungan
Banyak orang sekadar membeli asuransi jiwa tanpa terlebih
dulu menghitung berapa kebutuhan uang pertanggungan yang sebenarnya dia
butuhkan. Alhasil, ketika terjadi risiko, uang pertanggungan yang cair ternyata
tidak memadai untuk menutup kebutuhan finansial keluarga.
"Ketahui terlebih dulu
berapa kebutuhan uang pertanggungan asuransi jiwa Anda sehingga bisa menemukan
produk yang tepat".
Cara mengetahui kebutuhan uang pertanggungan asuransi jiwa
bisa Anda hitung dengan pendekatan Human Life Value, dengan rumus pengalian
antara nilai pendapatan saat ini ditambah risk free rate.
Contoh,
pendapatan Anda saat ini Rp 10 juta per bulan dan tanggungan Anda baru bisa
mandiri 20 tahun lagi. Asumsi risk free rate 5,2 persen.
Maka, kebutuhan uang
pertanggungan asuransi jiwa adalah Rp 10 juta x 12 bulan x (110 persen+5,2
persen) x 20 tahun = Rp 1,42 miliar.
Setelah mengetahui kebutuhan uang
pertanggungan, Anda tinggal mencari produk asuransi jiwa dengan nilai Uang
Pertanggungan (UP) sebesar itu.
Anda bisa menimbang produk term life atau
asuransi jiwa berjangka murni yang harga preminya masih terjangka dengan nilai
UP cukup besar.
2.Menganggap asuransi
sebagai investasi
Perihal asuransi, satu hal yang perlu Anda selalu ingat
adalah bahwa asuransi merupakan biaya. Asuransi bukanlah investasi di mana Anda
bisa mengharapkan imbal hasil yang besar suatu hari nanti.
Sebaliknya, asuransi
merupakan biaya karena pada prinsipnya asuransi merupakan skema pengalihan
risiko seseorang pada pihak ketiga yaitu perusahaan asuransi. Perusahaan
asuransi akan membayarkan sejumlah kompensasi atau uang pertanggungan ketika
terjadi risiko pada tertanggung atau pemegang polis.
Pemegang polis wajib
membayar premi sebagai biaya atas pengalihan risiko kepada perusahaan asuransi
tersebut.
Asuransi jiwa tidak bisa mencegah kematian. Namun, asuransi jiwa bisa
meringankan beban finansial anggota keluarga yang ditinggalkan ketika sang
pencari nafkah meninggal dunia.
Salah menganggap asuransi sebagai produk
investasi bisa menggiring Anda memilih produk asuransi jiwa yang kurang tepat.
Seperti membeli asuransi jiwa yang digabung dengan investasi. Akibatnya premi
cukup mahal, sedangkan uang pertanggungannya relatif kecil. Jadi, berlakulah
cerdas dalam memilih yang terbaik.
3.Salah menetapkan
tertanggung di polis
Dalam asuransi, tertanggung adalah dia yang ditanggung
risiko jiwanya oleh perusahaan asuransi.
Sehingga, ketika si tertanggung
tersebut meninggal dunia, maka perusahaan asuransi akan membayar sejumlah uang
pertanggungan yang berhak diberikan kepada ahli waris yang ditunjuk.
Siapa yang
idealnya menjadi tertanggung dalam produk asuransi jiwa? Sesuai tujuan
pembelian yaitu manajemen risiko finansial keluarga, tertanggung asuransi jiwa
seharusnya adalah mereka yang memiliki nilai ekonomi atau pihak yang menjadi
sumber penghasilan keluarga. Misalnya, suami, istri, atau keduanya. Bila suami
dan istri sama-sama bekerja, tertanggung seharusnya adalah pihak yang memiliki
penghasilan terbesar karena risiko finansialnya juga paling besar bagi keluarga
bila tiba-tiba dia meninggal dunia.
4.Asal membeli asuransi
pendukung
Biasanya saat Anda membeli asuransi jiwa, agen asuransi akan
menawarkan pula asuransi pelengkap atau rider. Jangan asal menambah asuransi
tambahan sebelum menghitung terlebih dulu apa saja kebutuhan Anda.
Asuransi tambahan juga
berarti biaya tambahan, maka itu bijaklah dalam menambah jenis riders. Jikalau
perlu tambahan, untuk asuransi jiwa Anda bisa menimbang untuk menambahkannya
dengan waiver of premium atau pembebasan premi. Riders ini berguna untuk
mengantisipasi risiko ketidakmampuan yang mengakibatkan Anda tidak bisa
membayar premi rutin. Misalnya karena terjadi kecelakaan yang membuat Anda
kehilangan pekerjaan, Anda akan dibebaskan dari pembayaran premi asuransi jiwa.
Artikel ini telah tayang di
Kompas.com dengan judul "4 Kesalahan Besar Nasabah Saat Membeli Asuransi
Jiwa".